Sekitar jam 09.45 saya dan teman - teman menuju kantin pusat untuk mengisi perut karena memang belum sarapan pagi ini dan juga telah lelah karena barusan TPB dari pagi tadi. Ketika saya tiba di kantin pusat, saya sedikit terheran ketika melihat salah satu senior saya yang mencalonkan diri sebagai calon presiden BEM ITS, berada di kantin pusat bersama tiga rekannya yang juga mencalonkan diri menjadi calon presiden BEM ITS. Tapi rasa lapar saya mengalahkan rasa heran saya tersebut. Tidak berpikir dua kali, saya bersama teman - teman langsung saja mencari tempat duduk yang strategis dan memesan makanan. Saat itu saya mengambil menu soto ayam dan minuman es jeruk. Asik juga rasanya mengenang masa - masa awal saya memasuki ITS, ketika itu menu yang pertama kali saya makan di kantin pusat adalah soto ayam dan es jeruk. Sambil berbincang - bincang bersama teman - teman, tak terasa waktu menunjukkan sekitar pukul 10.00 dan makanan pun sudah pindah ke perut semua. Tak berapa lama pun saya mendengar beberapa teriakan orasi dari depan kantin pusat (pada saat itu saya dan teman - teman duduk di belakang). Saya beserta teman - teman pun bertanya - tanya, sebenarnya ada apa? Dan ternyata, pada saat itu adalah jadwal kampanye para calon presiden BEM ITS yang memang diadakan di kantin pusat. Saya dan teman - teman bergegas ke depan kantin dan melihat kampanye mereka.Cerita sedikit, calon presiden BEM ITS sendiri untuk pemerintahan 2008/2009 berjumlah empat orang, dan diantaranya adalah senior saya angkatan 2005, dan juga ada sedikit warna pada calon - calon kalo ini, yaitu adanya seorang wanita yang mencalonkan diri sebagai calon presiden BEM ITS, wanita itu adalah mbak Nora dari jurusan Teknik Sipil ITS. Orasi dimulai dari calon nomor satu, yaitu mas Adit dari jurusan Teknik Kimia ITS, kemudian berlanjut ke nomor dua, mas Bijak dari jurusan Teknil Elektro ITS, lalu mbak Nora, dan terakhir mas Aris dari jurusan Teknik Informatika ITS. Yang saya soroti adalah mbak Nora, di sini ia memproklamirkan Angel of Change, dimana wanita - wanita ITS tidak selalu menyokong para lelaki, namun bisa menjadi pemimpin dan memang mampu memberi perubaha ITS ke yang lebih baik. Kampanye kali ini berlangsung sangat seru, lebih - lebih lagi pada saat sesi tanya jawab antar mahasiswa - mahasiswa yang ada di kantin pusat.
Pada saat sisi ini, banyak sekali pertanyaan - pertanyaan yang memang menguji kapabilitas dari keempat calon ini. Pertanyaan yang soroti adalah pertanyaan dari seorang mahasiswa yang menanyakan bahwa bagaimana pembelaan dan perjuangan keempat calon ini tentang komersialisai pendidikan, dimana mahasiswa ini menanyakan, apakah calon - calon ini bersedia di skorsing bahkan di DO demi memperjuangkan penolakan terhadap komersialisasi pendidikan. Dan yang saya soroti lagi adalah pertanyaan yang berisi tentang arti dari presiden itu sendiri, arti dari BEM itu sendiri, dan ari dari Presiden BEM itu sendiri, karena menurutnya calon - calon tersebut bisa saja pandai bermain kata, namun arti dari hal tersebut itu tidak tahu. Dan juga ada mahasiswa yang mengkritisi kebijakan BEM pada pemerintahan sebelumnya yang katanya bukan BEM, tetapi BER (Badan Eksekutif Rektorat). Saya mencoba mencerna hal ini, dan kalo dipikir - pikir ada benar nya juga, pemerintahan BEM terdahulu terlalu tunduk kepada kebijakan rektorat, padahal sejatinya BEM adalah badan eksekutif mahasiswa, yang mana ia haru membela kepentingan mahasiswa bukan hanya mengedepankan perintah dari birokrasi atasan. Kampanye dituutp dengan pertanyaan tentang kepentingan mereka, apakah para calon - calon ini mementingkan pencitraan mereka sebagai presiden BEM, atau kesejatian mereka menjadi presiden BEM. Acara ini ditutup dengan orasi terakhir, atau dengan kata lain ditutup dengan perkataan yang persuasif yang intinya memilih diri merekan menjadi presiden BEM ITS pada periode kali ini.
Penilaian saya secara objektif maupun subjektif adalah bahwa keempat calon presiden BEM ITS kali ini pasti dan sesungguhnya menginginkan perubahan pada tubuh ormawa sendiri, yang dimana selama ini ormawa - ormawa yang ada di ITS terlalu menyibukkan dan meninggikan arogansi nya, bukan meninggikan sifat kebanggaannya menjadi satu civitas akademika ITS. Dan yang penting adalah keempat calon ini adalah calon terbaik yang dimilikai mahasiswa ITS, karena mereka setidaknya telah membuktikan bahwa mereka berani untuk mencalonkan diri sebagai calon presiden BEM yang berikutnya, dan merek juga berani untuk akan melakukan perubahan dalam tubuh elemen BEM itu sendiri.
Mengutip salah satu kata - kata mutiara dari senior saya :
dikutip dari : Mas Mustofa e45
Selama jiwa belum lepas dari raga, selama kaki belum menginjak pintu surga, haram hukumnya bagi mahasiwa untuk berputus asa








0 komentar
Posting Komentar