Foto di atas adalah foto salah satu teman saya yang sedang tidur (atau dalam bahasa jawa "turu") di puncak Gunung Bromo. Itulah kenapa saya menyadari bahwa organisasi ini dinamakan PT (pindah turu). Organisasi ini tidak mempunyai anggota (nah lo, ga ada anggota??), karena semua orang yang mau masuk ataupun yang belum masuk adalah anggotanya, kenapa begitu ? Karena organisasi ini tidak mengedapankan, atau belum mengedepankan kemajuan organisasinya, hanya saja menginginkan semua anggotanya dapat bersenang - senang (dalam batasan tertentu tentunya) dalam tujuan dapat menghilangkan penat karena rutinitas kuliah yang ketat. Dan percaya atau tidak, para pendiri organisasi ini bukanlah orang yang memang fisiknya sudah tahan terhadap iklim ala, seperti dinginnya pegunungan atau panasnya pantai, tetapi mereka hanya bermodal mental yang kuat, tetapi untuk masalah adventurer, mereka sudah bisa dibilang TOP !!
Setelah seluruh persiapan selesai, pukul 20.30 kami berangkat. Hal pertama yang dituju adalah perhentian sementara untuk makan atau mengopi, karena perjalanan ke Gunung Bromo tidaklah sebentar, untuk mencapai Probolinggo saja dibutuhkan waktu lebih kurang 4 jam dari Surabaya, dan untuk naik ke Gunung Bromo nya dibutuhkan waktu lebih kurang 1 - 2 jam. Perhentian pertama adalah di Aloha, di sana kami makan dan ngopi sebentar. Namun ada pengalaman menarik di sini, dimana beberapa teman saya makan soto daging maduran, dan ketika mereka membayar, harganya Rp 11.000, dan mereka pun merasa tertipu. Ketika mereka menceritakannya kepada kami, kami pun tertawa, bagaimana tidak, untuk ukuran kami para mahasiswa yang ngekos atau ngelaju, Rp 11.000 tersebut bukanlah murah, bisa dibilang itu adalah jatah makanan sehari, dan juga uang kami untuk berangkat ke Gunung Bromo juga pas - pas an, ha3x.., sunggung malang nasibmu nak..!!
Pukul 21.00, sebelum berangkat kami pun berdoa terlibih dahlu supaya dalam perjalanan kami lancar - lancar saja, dan kami pun berangkat menuju tempat tujuan, di sini kenapa kami pilih berangkat malam ? Ini dikarenakan, setibanya di sana kami berharap dapat melihat sunrise di Pananjakkan sebelum nantinya kami naik ke Gunung Bromo. Perjalanan melelahkan pun kami mulai. Berjalan menyusuri kota - kota kecil, melaju di belakang dan di samping truk - truk besar, melaju dengan kecepatan rata - rata 60 km/jam, sungguh perjalanan yang menegangkan dan juga mengasikkan. Nah, kejadian lucu terjadi juga selama perjalanan ini. Perjalanan ini menggunakan empat motor, dan diikuti oleh tujuh orang. Jelas saja, ada satu motor yang ditunggangi oleh satu orang. Nah ketika terjadi macet disekitar daerah Porong, Sidoarjo, formasi kami terbubarkan, namun teman kami yang sendiri menunggangi motor ini, dengan cepat menyalip sana sini mobil - mobil dan truk - truk yang sedang berjejer rapi menunggu karena antrian panjang sekali. Nah, dengan berasumsi ia melaju terus tanpa melihat ke belakang bahwa kami masih dalam satu formasi, kami pun beranggapan ia tahu jalan, sehingga kami pun tidak mengejarnya. Perjalanan pun akirnya lenggang ketika memasuki daerah Bangil, Pasuruan. Kami pun melaju seperti biasa, namu ada firasat tidak enak di hati kami ketika formasi ini hanya diisi oleh tiga motor saja. Akhirnya kami berhenti di depan mesjid, di kota Pasuruan. Kami pun menghubungi teman kami yang terpisah tersebut, dan tahu tidak, dia rupanya nyasar !!! Kami pun di sana tertawa, yang tadinya kami asumsikan ia dengan Pe-De nya menyalip sana sini bahwa ia tahu jalan, rupanya tidak, malah ia nyasar, ha3x.. Dan akhirnya kami pun menunggu di depan mesjid kurang lebih 20 menit untuk menunggu teman kami tersebut. Tak lama menunggu, akhirnya ia datang denga tersenyum dan dengan muka datar tak bersalah, kontan saja salah satu teman kami menjitak kepalanya, Ha3x..
Perjalanan kami lanjutkan kembali, dan kini formasi pun tetap terbentuk. Tak terasa kami pun sampai di kota Probolinggo, dan mencari belokan ke arah Gunung Bromo. Belokan itu pun didapat, dan kami langusng melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan menuju Gunung Bromo ini, jalannya sudah mulai naik dan meliuk - liuk, dan juga udara sudah mulai dingin. Kami terus melanjutkan perjalanan dalam gelapnya malam, dan kami hanya diterangi oleh lampu motor. Kami pun terus melaju menempuh dinginnya malam. Setelah lama mengarungi perjalanan, kami menemukan pom bensin di daerah seperti ini, lucu juga, namun alhamdulillah. Kami pun mengisi bahan bakar dengan penuh, tidak lupa pula menguras kantung kemih yang dari tadi sudah penuh, dan ingin dibuang. Setelah semua selesai, kami pun melanjutkan perjalanan. Setelah capek menempuh perjalanan, akhirnya kami menemukan banner bertuliskan Selamat Datang di Wisata Gunung Bromo, capek itupunj hilang seketika. Di sini udara sudah mulai dingin sekali, padahal perjalanan ke atas masih dua kilpometer lagi. Kami pun menelusuri jalan menanjak dan berkelok - kelok ini. Dengan semangat, kami pun menelusurinya, dan akhirnya kami pun berhenti di kedai kopi, karena udara di sini sangat dingin sekali, serasa menusuk ke tulang. Jaket kami pun serasa tidak ada apa - apanya, udara dingin menembus jaket dan kulit hingga menyentuh tulang belulang yang ada di dalam tubuh ini. Kami pun segera memesan dan meminum kopi. Kopi ini panas sekali, namun ketika dipegang dengan tangan, serasa tidak terasa panas itu, mungkin ini dikarenakan udara yang sangat dingin.

Setelah mengahangatkan badan, kami pun beranjak dan meninggalkan tempat ini menuju ke atas lagi. Tetapi sebelumnya saya membeli sarung tangan dan tutup kepala untuk meminimalisir dingin yang masuk ke badan. Namun tetap saja, sarung tanga dan tutup kepala yang saya beli dengan merogoh kocek sebesaro Rp 10.000, belum bisa juga menghangatkan badan saya. Kami pun nekat untuk naik ke kaki Gunung Bromo. Setibanya di sana, kami pun membayar tiket masuk dan berisitirahat sejenak. Namun ketika kami mau naik, portal masih ditutup, sehingga untuk beberapa jam kedepan kami singgah, beristirahat, dan mengahangatkan dengan api unggun. Di sini kami bertemu bapak penjaga dan bapak yang menjadi tour guide para turis. Kami pun berbincang - bincang dengan mereka menghabiskan waktu sembari menunggu terbukanya portal menuju Gunung Bromo. Dari perbincangan ini, rupanya kami tidak sendirian mendaki ke sini, banyak juga orang yang ikut mendaki, seperti turis - turis dari Australia, dan tidak ketinggalan turis dalam negeri.

Sekitar pukul 03.00 kami pergi ke kedai kopi untuk memakan mie kuah yang panas dan minukm kopi panas tentunya. Ini bertujuan mengahangatkan badan dan menambah stamina untuk mendaki lagi. Pendakian kali ini sangat tinggi dan curam sekali. Setelah mengisi perut, rasanya badan mulai hangat dan stamina mulai pulih kemabali. Sekitar pukul 03.45, kami bersiap, dan langsung berangkat sembari pamitan dengan bapak - bapak tadi. Oh ya, jam segini tempat ini mulai rame, karena semua manusia yang menginap di sini sudah bangun dan bersiap untuk naik, mereka pun bertujuan sama dengan kami, yaitu berangkat ke Penanjakkan dahulu untuk melihat sunrise. Akhirnya kami pun berangkat. Di dalam gelapnya pagi, kami melintasi padang pasir yang begitu berat terasa untuk dilewati. Bagaimana tidak, seluruh ban motor kami tidak di desain untuk melewati padang pasir ini, jelas saja motor kami selap selip di sini. Dengan bersusah payah dan mengusung jiwa adventurer, kami pun bersemangat melewati padang pasir ini, berat sekali rasanya. Dengan usaha yang keras, akhirnya tiba di penghujung padang pasir dan menemuia jalan aspal. Nah, rintangan kali ini lebih berat lagi, walaupun tadi padang pasir yang membuat selip motor, namun jalan yang dilalui datar - datar saja, nah sekarang jalan yang dilalui dangat curam mendaki ke atas. Motor kami pun berjuang mengangkat para driver nya untuk ke atas. Untuk motor yang saya tunggangi, tidak jadi masalah, karena mengusung mesin berkapasitas 250 cc, tetapi motor yang lain hanya mengusung mesin sebesar 125 cc. Tapi, menurut temas saya sih motor 125 cc untuk menanjaki jalan curam seperti ini tidak apa - apa , malah sudah lebih dari cukup, namun ini ada yang tidak beres. Mengapa motor bermesin 125 cc tidak ada tarikannya ketika naik ke atas ?? Kami pun mencurigai pom bensin tadi, bahwa bensin yang ada di sana telah dicampur dengan air yang berlebih. Benar saja, ketika motor salah satu teman saya naik dengan menggunakan gas yang besar dan pada rotasi gigi satu, knalpot belakangnya seringkali mengeluarkan bunga api dan seperti menembak - nembakkan sesuatu. Ini disimpulkan oleh taman saya yang pakar motor bahwa pembakaran di mesin tidak sempurna, karena bensin tadi tidak murni bensinm 100%, tetapi ada campuran airnya sehingga mesin mengeluarkan letupan yang bertujuan mengeluarkan air tersebut dan berimbas pada pengapian mesin dan juga kinerja mesin tersebut. Dengan bersusah payah kami membantu mendorong motor - motor yang tidak kuat naik. Kami pun berganti formasi, saya membawa motor yang tidak kuat naik tadi tanpa boncengan, sedangkan motor yang 250 cc tadi membawa teman saya yang cenderung berat, dan motor satunya lagi membawa teman saya yang ringan. Formasi ini berhasil, walaupun tenaga motor tetap tidak ada, walaupun begitu, motor masih bisa dijalankan dan akhirnya kami tiba di tempat tujuan sekitar pukul 05.00. Kami pun bergegas parikir motor, dan naik ke atas untuk melihat sunrise di atas. Ternyata sesampainya di atas, sudah banyak orang - orang yang ada di sana, Saya tidak menyangka juga, rupanya mereka pergi lebih pagi dari kami, dan juga mereka tidak menderita seperti kami, karena mereka menyewa mobil Jeep yang notebene kuat di daerah seperti ini, tetapi ini pengalaman yang luar biasa. Setibanya diatas, saya tidak lupa membuncahkan hobi fotografi saya, dan mengabadikan momen - momen yang menarik. Ini beberapa foto dari banyak foto yang saya ambil :













Akhirnya, selesai juga perjalanan kami kali ini. Setelah itu semua di atas, kami langsung bergegas pulang. Tak ada yang spesial sewaktu pulang untuk diceritakan, karena semua sudah pada ngantuk. Semoga cerita ini menginspirasi anda menjadi jiwa adventurer, sebagaimana kami telah mencoba nya. Victory !!!

















0 komentar
Posting Komentar