Review Film Ayat - Ayat Cinta

Diposting oleh TiT!< TeranG™ | Sabtu, Maret 22, 2008 | 0 komentar »


Sudah hampir sebulan rasanya pemutaran film Ayat - Ayat Cinta, penontonnya hingga kini membludak.. Film yang diangkat dari novel Ayat - Ayat Cinta karangan Habiburrahman El
Shirazy ini ini laku keras, dan denger - denger dari infotainment, produsernya mau mengikutkan film ini ke kontes film dunia, trus juga mau diorbitkan di negara - negara luar.. Hebat juga tuh si Hanung Bramantyo buat film, bisa sampe gitu, he3x..

Ngomong - ngomong tentang filmnya sih memang bagus.. Klo yang udah baca novelnya, pasti nonton filmnya lebih mengena.. Film yang mengisahkan kehidupan seorang mahasiswa Indonesia bernama Fahri yang menuntut ilmu di Universitas Al- Azhar.. Singkat cerita, ia bertemu dengan Aisha, seorang wanita yang berkebangsaan Jerman, dan akhirnya Fahri menikahi Aisha.. Konflik pun dimulai setelah menikah, dimana ketika Fahri dituduh memperkosa Noura, seorang wanita yang telah ia tolong ketika disiksa oleh ayahnya, Bahadur.. Maria, tetangga satu flat Fahri yang juga mencintai Fahri adalah saksi kunci yang bisa mengeluarkan Fahri dari penjara, namun semenjak Fahri menikahi Aisha, Maria patah hati dan depresi, lalu ia ditabrak lari oleh orang suruhan Bahadur.. Setelah itu, Maria beserta keluarganya pergi menjauh.. Aisha terus mencari Maria demi menyelamatkan suaminya dari penjara, dan seketika ia bertemu dengan Maria, Maria telah sekarat dirumah sakit, ibunya mengatakan bahwa Maria tidak sembuh - sembuh karena depresi terhadap cintanya yang dipendam di dalam hati terhadap Fahri.. Cinta Aisha pun diuji di sini, ia merelakan suaminya, Fahri, untuk menikahi Maria agar Maria sembuh dan bisa menjadi saksi di persidangan.. fahri pun menikahi Maria, dan Maria dapat menjadi saksi di pengadilan dan akhrinya Fahri keluar dari penjara.. Konflik pun belum selesai, hidup bertiga bersama Aisha dan Maria membuat Fahri susah berbuat adil.. Singkat cerita lagi, akhirnya Maria menyadari akan cinta dan perasaan ingin memiliki, ia minta diajari shalat, den mereka pun shalat bertiga.. Ketika shalat, Maria meninggal dunia, dan akhirnya Fahri dan Aisha hidup bahagia...

Karakter Fahri diperankan oleh Fedi Nuril, karakter yang diperankan oleh Fedi bagus dan bisa membawa emosi pada penontonnya. Ia dapat memunculkan karakter kesederhanaan, rendah hati, dan memiliki agama yang kuat yang memang ada Fahri dalam novelnya.. Maria diperankan oleh Carissa Puteri pun bagus, ia dapat memunculkan karakter maria yang riang yang suka tersenyum.. Dan yang terakhir, karakter yang paling saya suka, yaitu Aisha yang diperankan oleh Riyanti Cartwright. Ia memerankan dengan sempurna, pembawaan Aisha yang sering menunduk menandakan ia adalah wanita yang sholeha, kalimatnya selalu lugas dan bijaksana menandakan wanita yang penuh deng ilmu pengetahuan, sempurna !! Namun ada kekurangan ketika ia mengatakan bahwa ia rela tidak tinggal di flat ibunya, tidak menggunakan mobil, ini terkesan sombong bertolak belakang di novelnya, namun secara keseluruhan, sempurna..

Untuk filmnya sendiri sudah bagus, namun ada sedikit kekurangan dimana tujuan dakwah dari film ini belum seluruhnya dimunculkan, malahan kisah romantisme, memang dalam romantisme nya, ada beberapa pesan dakwah yang disampaikan, namun lebih kepada romantisme belaka. Dan juga adegan ciuman mereka, mengapa itu mesti ada dalam film ini ?? Saya agak kecewa.. Namun, rasa kecewa saya tertutupi dengan perkataan Fahri yang menjelaskan tentang perlakuan suami terhadap istri yang terdapat pada surat An - Nissa..

ITS, Akreditasi Ok!, Jargon Ok!

Diposting oleh TiT!< TeranG™ | Sabtu, Maret 22, 2008 | 0 komentar »

"Akhirnya Badan Akreditasi Nasional (BAN) Perguruan Tinggi menetapkan Institut Teknologi Sepuluh Novemer (ITS) sebagai perguruan tinggi dengan predikat akreditasi A. Bersama 50 perguruan tinggi lainnya, penilaian ini adalah yang pertama bagi ITS. Penilaian dari berbagai sektor dalam lima tahun kebelakang langsung membawa ITS meraih nilai A.", sebuah kutipan yang saya ambil dari situs ITS net, http://www.its.ac.id. Suatu yang membanggakan memang, dimana kita tahu bahwa ITS adalah kampus perjuangan, kampus yang sederhana namun tetap mengedepankan intelektualitas sebuah institusi pendidikan.

Dibalik euforia kebanggaan medapatkan akreditasi A, saya terheran semenjak hari Jumat minggu lalu, kemahasiswaan ITS memproklamirkan jargon baru, yaitu ITS CAK (cerdas amanah kreatif) mengganti jargon lama ITS CUK (cerdas ulet kreatif). Mungkin dengan sejalannya akreditasi yang didapat ITS, jargon ITS CUK (cuk yang berarti dalam bahasa surabaya sehari - hari adalah perkataan kotor) harus diganti dengan ITS CAK sehingga orang - orang tidak lagi mengatakan ITS CUK yang bisa bermakna ganda, sebuah hinaan, atau sebuah akronim kebanggaan, namun dengan jelas ITS CAK, sebuah panggilan atau akronim kebanggaan.

Memang tidak mudah menghilangkan jargon lama ITS dari benak setiap mahasiswa, namun perubahan haruslah dimulai. Dengan perubahan kecil ini semoga dapat merubah yang lain yang memang lebih besar dalam lingkungan intelektual ITS. Sehingga kedepannya ITS tidak lagi dikatakan kampus yang selalu dibawah IT? (lawannya, red), namun bisa mengungguli dan bisa bersaing di jajaran 500 besar universitas di dunia, ^_^!.

My First Post

Diposting oleh TiT!< TeranG™ | Jumat, Maret 21, 2008 | 0 komentar »

Alhamdulillah..

Akhirnya terealisasi juga keinginan untuk mempunyai blog, tempat dimana kita atau saya bisa menuangkan pemikiran - pemikiran yang unik, menarik, dan berguna.. Untuk pertama, pada tanggal 21 Maret 2008, resmi blog TiT!k TeranG™ yang beralamat di http://terangnyatitik.blogspot.com/ diresmikan..

Semoga dengan adanya blog ini, dapat memunculkan pemikiran - pemikiran baru yang jernih tentang segala hal yang memang semestinya dipikirkan sehingga menjadi TiT!< TeranG™ bagi khalayak manusia..

Surabaya, 21 Maret 2008

TauFan!